Mabes Polri resmi menyambut amunisi kepemimpinan baru di jajaran perwira tingginya. Sosok perwira yang sangat lekat dengan gerakan pelestarian alam dan lingkungan hidup kini resmi mengemban tugas strategis di tingkat pusat. Menisik lebih jauh profil Komjen Pol Herry Heryawan, sang jenderal yang selama ini akrab disapa dengan julukan “Bapak Gajah” tersebut memboyong rekam jejak kepemimpinannya ke Jakarta setelah menyelesaikan masa bakti yang cemerlang di wilayah Sumatra.
Keputusan pergeseran jabatan ini menandai fase baru dalam penataan jajaran pimpinan tinggi Korps Bhayangkara. Pengalaman operasional yang kaya di tingkat kepolisian daerah diharapkan mampu memberikan warna baru bagi penguatan fungsi pengamanan publik dan perlindungan ketertiban masyarakat di seluruh Indonesia.
Kenaikan Pangkat Bintang Tiga
Prosesi pergeseran pimpinan di markas besar berlangsung dengan khidmat. Momen ini sekaligus menjadi puncak apresiasi atas pengabdian panjang perwira alumni 1996 tersebut.
“Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto resmi melantik Herry Heryawan dan sejumlah pejabat utama (PJU) Mabes Polri dan Kapolda lainnya, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Sabtu (3/10/2026) malam.”
Pengangkatan jabatan baru di lingkungan markas besar ini secara otomatis menaikkan jenjang kepangkatan perwira tinggi tersebut ke tingkat tertinggi.
“Pelantikan tersebut sekaligus menandai kenaikan pangkat perwira tinggi Korps Bhayangkara tersebut menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi atau jenderal bintang tiga.”
Meskipun disambut dengan rasa bangga oleh institusi kepolisian, kepindahannya membawa kenangan tersendiri bagi warga di daerah penugasan terdahulu. Perhatian besar yang diberikan terhadap kelestarian flora dan fauna membuat sosoknya sangat dirindukan.
“Namun di balik kabar membanggakan atas promosi jabatan tersebut, terselip rasa kehilangan yang mendalam dari masyarakat Bumi Lancang Kuning. Masyarakat Riau mengingatkan Komjen Herry agar tidak melupakan gajah-gajah Sumatra yang selama ini menjadi perhatiannya.”
Kenapa Memilih Perlindungan Satwa Sumatra
Kepedulian tinggi yang diperlihatkan dalam profil Komjen Pol Herry Heryawan berakar dari keprihatinan atas kondisi riil alam di tempat tugasnya. Konflik horizontal antara aktivitas manusia dan keberadaan satwa dilindungi menjadi perhatian utama.
Susutnya area hutan akibat pembukaan lahan dan perluasan aktivitas pemukiman menjadi pemicu utama berkurangnya ruang gerak satwa liar. Luas area hutan yang menyusut memaksa kelompok satwa keluar dari habitat asli dan bergeser mendekati pemukiman warga.
Kondisi tersebut kerap berujung pada bentrokan yang merugikan kedua belah pihak. Penegakan hukum dan perlindungan lingkungan hidup pun menjadi kebutuhan mendesak guna mencegah kepunahan satwa langka yang menjadi identitas keanekaragaman hayati Indonesia.
Konsep Modern Green Policing
Menanggapi kompleksitas persoalan lingkungan di wilayah tugasnya, perwira tinggi kelahiran 23 Februari 1972 ini tidak sekadar menggunakan pendekatan penindakan hukum biasa. Beliau menelurkan gagasan kepolisian modern yang memadukan penegakan hukum dengan kepedulian alam.
Gagasan bertajuk Green Policing ini bertumpu pada pemikiran bahwa kerusakannya kawasan alam berbanding lurus dengan peningkatan risiko kejahatan dan konflik sosial. Kerangka kerja terobosan ini dijalankan melalui tiga pilar utama:
- Tindakan Preventif: Menggiatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya menjaga hutan serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan secara intensif kepada warga.
- Tindakan Represif: Menerapkan penegakan hukum yang tegas tanpa tebang pilih terhadap para pelaku kejahatan lingkungan dan pembakar hutan.
- Tindakan Restorasi: Melakukan pemulihan kawasan yang telah rusak akibat ulah manusia melalui gerakan pemeliharaan lingkungan dan penanaman pohon secara masif.
Pelaksanaan konsep ini disosialisasikan secara meluas ke berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkatan paling dasar hingga perguruan tinggi. Tradisi internal kepolisian pun diubah secara unik, salah satunya mengganti karangan bunga ucapan selamat dengan bibit tanaman hidup bagi personel yang merayakan momen khusus.
Penindakan Pembunuhan Gajah
Komitmen penegakan hukum dalam profil Komjen Pol Herry Heryawan teruji secara nyata saat menangani kasus kejahatan terhadap satwa dilindungi. Penanganan tegas ditunjukkan tanpa kompromi kepada kelompok kriminal yang merusak kelestarian alam.
Sikap pantang mundur ditunjukkan saat jajarannya berhasil membongkar sindikat pembunuhan gajah liar di areal konsesi wilayah Pelalawan. Satwa berusia puluhan tahun tersebut dibunuh secara keji demi diambil gadingnya untuk diperjualbelikan di pasar gelap. Penyelidikan mendalam berhasil meringkus belasan anggota jaringan lintas provinsi.
Guna memberikan efek jera yang maksimal, kepolisian tidak hanya menjerat pelaku dengan pasal pidana kehati, tetapi juga melacak aliran dana kejahatan. Langkah pemiskinan pelaku diterapkan melalui penerapan pasal tindak pidana pencucian uang.
“Dari hasil penyidikan lanjutan, penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup adanya tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh tersangka FA dan tersangka FS,” kata Dirkrimsus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro Ridwan dalam konferensi pers di Polda Riau, Kamis (11/6/2026).
Inovasi Breeding Area
Selain penindakan hukum yang tajam, perhatian terhadap masa depan satwa diwujudkan melalui pembangunan fasilitas penangkaran khusus di Pusat Latihan Gajah Minas. Pembangunan kawasan ini ditujukan untuk menjaga keanekaragaman genetik satwa agar tidak punah ditelan zaman.
Pendirian fasilitas ini menjadi wujud nyata dukungan kepolisian terhadap instruksi pimpinan negara terkait percepatan penyelamatan populasi satwa liar. Dalam sebuah momen mediasi bersama masyarakat yang mendiami kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo, jenderal bintang tiga ini secara terbuka menyatakan keberadaannya sebagai pelindung bagi satwa yang tak berdaya.
“Saya berdiri di sini perwakilan dari gajah. Gajah-gajah ini kan nggak bisa ngomong, yang ada di sana, lingkungan hidup yang ada di sana kan nggak bisa ngomong padahal meeka makhluk hidup sama dengan kita,” kata Herry Heryawan di kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Sabtu (21/6/2025).
Beliau mengingatkan bahwa kawasan konservasi merupakan rumah alami yang harus dijaga dari kerusakan perambahan liar oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“Kalau mereka bisa ngomong kenapa dulu mereka punya rumah itu diganggu tapi kita nggak boleh ke belakang lagi TNTN ini kan untuk ekosistem, terutama gajah yang hidup di dalam ekosistem di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo,” tambahnya.
Atas kepedulian yang begitu mendalam, beliau mendapat julukan kehormatan sebagai “Bapak Gajah” dan secara pribadi bersedia menjadi bapak asuh bagi anak gajah penghuni kawasan konservasi.
Dampak Pengabdian
Pencapaian serta rekam jejak dalam profil Komjen Pol Herry Heryawan memberikan arah baru bagi tata kelola pengamanan publik di tingkat nasional. Untuk meneruskan keberhasilan pengabdian tersebut di Baharkam Polri, berikut beberapa arah kebijakan dan tindakan nyata yang dapat diterapkan:
- Mengintegrasikan kesadaran kepedulian lingkungan hidup ke dalam seluruh fungsi kepolisian preventif di tingkat daerah dan pusat.
- Memperkuat koordinasi lintas sektor antara kepolisian, kementerian terkait, serta komunitas aktivis lingkungan dalam pemetaan wilayah rawan konflik satwa.
- Meningkatkan pemantauan wilayah hutan dan objek vital nasional melalui efisiensi akses data digital yang dipantau dari layar HP petugas di lapangan.
- Memperluas jangkauan edukasi publik mengenai pencegahan kejahatan lingkungan yang dapat diakses secara mudah lewat platform media dan Browser berita.
- Mengoptimalkan peran kepolisian perairan dan perudara dalam memantau jalur penyelundupan ilegal satwa langka dan hasil hutan secara berkala.
Melalui perpaduan antara keberanian operasional, ketegasan hukum, dan kepekaan sosial terhadap alam, kepemimpinan Komjen Pol Herry Heryawan di Baharkam Polri diharapkan mampu membawa institusi kepolisian semakin dekat dan dicintai oleh masyarakat luas.